Tergusur!

Kabar mengejutkan datang dari sebuah jasa layanan blog yang sejak dari tahun 2008 saya pakai. Menurut berita, per Desember 2012, fasilitas blog akan dihilangkan alias digusur, karena mereka mau fokus di online store…CMIIW

Saya cukup panik. Mengingat banyak banget postingan baik journal, foto, notes yang saya share di blog lama saya itu. Setelah kasak-kusuk sana sini, akhirnya saya dapat informasi cara mentransfer data-data di blog lama saya ke layanan blog WordPress. Tapi nih, katanya hanya bisa untuk journal dan notes, sedangkan foto nggak bisa ikut ditransfer. Paling banter dipindah ke hard disk, sementara hard disk eksternal saya sedang masuk rawat inap  😦

Saat ini, baru journal yang saya pindahkan ke sini. Lumayanlah postingan yang lama-lama masih bisa diselamatkan.

Bye-bye blog lama saya tersayang…

 

cheers,

-Cita-

Pontang panting menuju Gambir

Sejak beberapa bulan yang lalu PT. KAI mengumumkan bahwa kereta api jarak jauh hanya bisa berangkat dari Stasiun Gambir, Tanjung Priok, Tanah Abang dan Pasar Senen….jeger, gw langsung mendadak migrain =__=

Gimana nggak, setiap gw pulang ke rumah orang tua yang berlokasi di Cirebon, transportasi yang paling praktis adalah naik kereta api (Cirebon Ekspress atau Argo jati) dibandingkan naik bis lewat jalur “neraka” Pantura.

Gw bekerja dan tinggal di Cikarang. Sebelum PT. KAI mengeluarkan peraturan yang gw anggap aneh itu, gw biasa naik Cireks (Cirebon Ekspress) dari Stasiun Jatinegara. Gw pilih naik dari Jatinegara karena menurut gw secara jarak tempuh lebih dekat dari Cikarang. Dari Cikarang gw tinggal naik elf 59 sampai UKI, kemudian lanjut naik angkot 006A sampai di depan stasiun.

Jadwal Cireks favorit gw adalah jam 18.45 (kereta berangkat dari Gambir), artinya kereta akan tiba di Jatinegara sekitar 10 menit kemudian. Sehingga kalau gw izin pulang cepat jam 16.00 dari kantor masih sempet tuh gw tiba di Jatinegara sebelum kereta datang.

Nah, sejak PT. Kaki mengeluarkan peraturan barunya itu, gw harus berpikir keras bagaimana caranya tiba di Gambir sebelum jam 18.45 dengan jam 16.00 gw baru berangkat dari Cikarang.

Akhirnya gw menemukan cara tercepat yaitu menggunakan commuter line dari Stasiun Bekasi, dimana commuter line itu akan berhenti di Gambir. Kesulitannya adalah commuter line itu ada jadwal tertentu, gak fleksibel, gak seperti kalau naik bis, yang ada kapan saja. Begitu terlambat sampai stasiun, terpaksa menunggu jadwal berikutnya.

Sebenarnya selain naik commuter line, bisa sih gw naik bis kalau mau ke Gambir. Gw bisa naik bis 121 rute Cikarang-Blok M, turun di halte Polda, kemudian naik bis TransJak yang ke arah Kota, turun di Halte Harmoni. Tapi tahu sendiri kan, Halte Harmoni itu kayak apa penuhnya, apalagi hari Jumat. Gw pernah nunggu bis TransJak arah Pulogadung nyaris 2 jam, padahal cuma mau turun di Halte Gambir doang. Alternatif lain, dari Cikarang gw bisa naik bis 121 atau elf 59, kemudian turun di Jatibening. Lanjut naik bis arah Senen, turun di halte Atrium, kemudian nyambung naik bis TransJak arah Harmoni atau nyambung bajaj/ojek/taksi, turun di Gambir. Tapi dari semuanya itu, cara paling praktis memang naik commuter line (tanpa memeperhitungkan jadwal kereta telat atau hambatan lainnya).

Pontang panting menuju Gambir ini gw alami ketika menjelang awal Ramadan gw memutuskan untuk mudik. Hari itu adalah hari Jumat. Hari Jumat biasa aja sudah terbayang bakalan macet dimana-mana. Apalagi ini menjelang awal Ramadan. Kekhawatiran gw pun terjadi.

Jam 15.30 gw keluar dari kantor gw yang di ujung dunia itu. Gw pun kemudian naik elf 45 menuju Bekasi Barat. Jam 16.15 elf baru berangkat, karena memang harus menunggu penuh dulu baru elf-nya bisa berangkat. Dari pangkalan elf menuju gerbang tol Cikarang Barat sudah kena macet. Begitu masuk ke Tol Cikampek arah Bekasi, macet juga. Padahal saya menargetkan akan naik commuter line yang jam 16.43 dengan harapan akan tiba di Gambir jam 17.20. Jika jadwal itu gak keburu, gw berpikir masih ada yang jam 17.06 dengan perkiraan akan tiba di Gambir jam 17.39. Namun sialnya, karena macet yang menggila gw baru tiba di Stasiun Bekasi jam17.15! Gw panik. Tanpa berpikir panjang gw membeli tiket commuter line jadwal 17.50 dengan konsekuensi tiba di Gambir 18.27, mepet banget dengan jadwal Cireks gw.

Setelah membeli tiket, gw masuk ke peron, dan gw melihat ada KRL ekonomi. Gw sempat menghubungi Rieska, teman yang mau bareng gw naik Cireks. Dia berangkat naik commuter line juga tapi dari Depok. Kabar buruk gw dapat dari Rieska, bahwa keretanya sudah 20 menit stuck di Manggarai karena ada lokomotif mogok di Gondangdia. OMG, gw makin panik. Akhirnya tanpa sempat menukar tiket commuter line seharga 6500 menjadi tiket KRL ekonomi seharga 1500 gw nekat naik KRL ekonomi. KRL ekonomi gak berhenti di Gambir, gw pun berencana turun di Gondangdia dan akan ke Gambir menggunakan ojek. Gw merasa KRL ekonomi yang gw naikin berjalan pelan banget.

Tiba-tiba belum juga masuk Jatinegara, keretanya berhenti. Kepanikan gw menjadi-jadi. Nyaris 10 menit kereta itu diam. Begitu masuk Jatinegara, keretanya berhenti lagi dan lama. Huaaah…gw udah mau nangis. Ketika kereta gw itu berhenti, di jalur lain ada kereta Taksaka dari Jogja yang sedang berhenti, tadinya gw sempet mau nekat naik Taksaka, nebeng sampai di Gambir. Tapi gw takut ketauan kondektur, terus disuruh bayar denda. Males banget gak sih. Akhirnya gw masih duduk aja di KRL ekonomi itu. Gw merasa mendengar pengumuman kalau commuter line Bekasi tujuan Jakarta Kota akan masuk Jatinegara. Gw bangkit dari kursi kemudian bertanya ke petugas penjaga di sana. Pada saat itu di jalur sebelah baru masuk kereta Argo Anggrek dari Surabaya.

Gw : Pak, barusan saya dengar commuter line Bekasi mau masuk sini ya?
Petugas : Ibu mau kemana?
Gw : Saya mau ke Gambir
Petugas : KRL ekonomi mah gak stop di Gambir.
Gw : (setengah kesal) Iya Pak, saya tahu, makanya saya tanya tadi kayaknya saya dengar pengumuman ada commuter line Bekasi mau masuk sini, kalau commuter line kan stop di Gambir. Pokoknya yang paling cepat sampai Gambir, Pak.
Petugas : Kalau mau ke Gambir, ibu naik ini aja (sambil nunjuk ke Argo Anggrek di sebelah KRL ekonomi dimana gw masih berada di dalamnya)
Gw : Kalau saya nanti ketahuan kondektur gimana, Pak?
Petugas : Udah ibu naik aja

Gw pun buru-buru turun dari KRL ekonomi itu dan dengan ragu-ragu gw naik ke Argo Anggrek. Semula gw cuma berdiri di bordes, tapi gw berpikir nanti malah berpotensi dicurigai penumpang gelap (padahal iya). Akhirnya gw nekat masuk ke dalam kabin dan duduk sesantai mungkin, berlagak gw adalah penumpang resmi Argo Anggrek dari Surabaya. Padahal dari seragam pabrik yang gw pakai, gak mungkin banget gw naik dari Surabaya. Gw komat-kamit berdoa semoga tidak ada kondektur yang melintas di kabin tempat gw duduk.

Tiba di Manggarai, kereta stop! Aarrgggh…ternyata perjuangan gw belum selesai. Padahal biasanya kereta eksekutif mana pernah stop di Manggarai. Berarti urusan lokomotif yang mogok di Gondangdia belum kelar nih. Gw menghubungi Rieska.

Gw : Ris, lo udah sampe di Gambir?
Rieska : Udah, ini lagi numpang nge-charge BB.
Gw : Cireks, udah datang belom? Gw masih stuck di Manggarai (bernada panik) (saat itu sudah jam 18.30)
Rieska : Kayaknya sih belom. Tapi tadi Argo Jati yang 17.15 juga terlambat berangkatnya. Tapi kereta lain yang jam 6an berangkatnya udah mulai tepat. Nanti gw cari info deh.
Gw : (semakin panik)

Kereta pun berangkat dari Manggarai. Gw yang semakin panik kembali menghubungi Rieska.

Gw : Ris, gimana? Lo udah di peron? Cireks udah ada belom?
Rieska : Gw udah di peron 4. Cireks belum datang. Menurut pengumuman sih, keretanya di belakang Argo Anggrek yang lo naikin.
Gw : Ooo…gitu (bernada sedikit lega tapi masih cemas)

Kereta berhenti lagi di Gondangdia. Menunggu giliran untuk masuk ke Gambir. Memberi kesempatan pada kereta yang baru berangkat dari Gambir. Duh!

Ketika jalur peron Gambir mulai kelihatan, gw buru-buru menuju bordes. Sudah ada seorang bapak berdiri dekat pintu. Kereta belum berhenti benar, gw sudah meminta si bapak untuk membuka pintu. Si bapak menatap gw heran. Mungkin dipikirnya nih cewak mau nekat apa ya, kereta belum berhenti, sudah minta buka pintu.

Ketika kecepatan kereta sudah tinggal sisa-sisa, gw langsung turun, melesat, berlari-lari dari peron 2, me
nuruni anak tangga, kemudian naik tangga lagi (padahal tersedia eskalator, tapi gw gak sempat berpikir lagi) menuju peron 4. Gw pun bertemu Rieska sambil nafas tersengal-sengal. 5 menit kemudian Cireks pun datang. Gw dan Rieska pun bergegas masuk ke dalam gerbong. Sekitar jam 19.00 lewat dikit, kereta pun berangkat.

Thanks, God. Gw gak ketinggalan kereta. Itupun karena jadwal Cireks ikutan molor. Kalau saja Cireks berangkat tepat waktu, sudah pasti gw bakal ketinggalan. Padahal tadi gw sempat memikirkan plan A, plan B seandainya gw ketinggalan kereta. Mulai dari beli tiket jurusan ke arah Timur apa aja yang penting berhenti di Cirebon (sudah pasti mustahil dapat tiket karena itu hari Jumat, biasanya tiket pasti sudah habis), mencari alternatif numpang nginep di Jakarta sampai memutuskan akan kembali ke Cikarang.

Saya pernah sih pulang ke Cirebon naik Gajayana yang rute aslinya ke Malang dengan rela membeli tiket seharga 300rb! Itu pun karena urgent, saya harus segera ke Cirebon, sementara tiket Cireks dan Argo Jati semua jadwal habis.

Tanggal 16 Agustus ini gw mau mudik lebaran. Sayangnya walaupun gw sudah membeli tiket itu di H-90, tiket untuk jadwal favorit gw jam 18.45, habis! Gw kebagian tiket Argo Jati jadwal 17.15. Itu artinya gw harus berangkat dari Cikarang lebih awal lagi. Gak akan keburu kalau jam 16.00 baru berangkat dari kantor. Mungkin harus jam 14.00 untuk mengejar jadwal commuter line dari Stasiun Bekasi jam 14.41, atau jadwal lain 14.55. Setelat-telatnya gw harus naik commuter line jadwal 15.33 atau 15.52. Itu sudah memperhitungkan kemacetan di Cikarang dan Tol Cikampek arah Bekasi yang akhir-akhir ini semakin menggila.

Intermezo :)

Biarpun terlihat cuek dari luar, sebenarnya saya stres juga memikirkan jodoh yang tak kunjung tiba…hahaha….

#Mencari kekuatan dalam sujud-sujud panjang ketika semua harapan menemui jalan buntu (Cinta di Ujung Sajadah-Asma Nadia)

Lebih dari sekedar cantik : Nusa Tenggara Timur #part 2

Day 2 (Kupang-Ende-Moni)
Seharusnya kami berangkat ke Maumere menggunakan Wings Air jam 06.30, tapi malamnya kami dapat pesan singkat yang mengatakan bahwa pesawat delay hingga jam 09.00. Sekitar jam 08.00 tiba di bandara El-Tari Kupang, kami langsung check-in sambil mengurus bagasi. Sampai ruang tunggu ternyata pesawat delay lagi sampai jam 10.00, kemudian kami mendapat nasi kotak. Ketika sudah berada di dalam pesawat (saya duduk dekat jendela di bagian kanan), saya melihat bagian baling-baling kanan sedang diutak-atik oleh teknisi. Saya pikir hanya akan sebentar. Ternyata sampai setengah jam pesawat belum take off juga. Seluruh penumpang termasuk saya dan teman-teman sudah gusar. Saat itu saya sudah cukup senang ketika melihat mesin baling-baling ditutup tanda perbaikan sudah selasai. Ternyata saat si teknisi hendak menggeser tangga, tanpa sengaja dia melihat sejumlah cairan merembes keluar dari mesin. Hati saya langsung kecut melihat kejadian itu. Si teknisi kembali membuka mesin di bagian baling-baling. Belakangan saya tahu dari saudara saya yang bekerja di Wings Air kantor Jakarta, cairan itu adalah oli yang merembes karena selangnya bocor. Akhirnya karena tidak tahan menunggu di dalam pesawat, semua calon penumpang turun kemudian menyerbu counter Wings Air untuk meminta kepastian. Banyak calon penumpang termasuk saya dan teman-teman terpancing emosi karena staf di counter tidak banyak membantu untuk memberi solusi, melainkan hanya memberi janji angin surga. Bahkan ada satu calon penumpang yang menendang-nendang meja dan kursi sambil menangis meraung-raung. Pasalnya, dia harus menghadiri pemakaman sang Opa di Larantuka, yang rencananya jam 2 siang peti mati sudah ditutup, jadi sebelum jam 2 dia sudah harus berada di Larantuka. Gara-gara hal ini penyakit GERD saya sempat kumat, saya sempat sesak nafas, karena asam lambung meningkat akibat emosi saya ikut terpancing. Setelah emosi reda, saya berkomunikasi dengan saudara yang bekerja di Wings Air kantor Jakarta untuk menanyakan perkembangan kejadian ini Menurut saudara saya, alat khusus untuk memperbaiki kerusakan baru akan tiba di Kupang dari Surabaya sekitar jam 14.30 dan kemungkinan pesawat baru akan berangkat jam 16.00. Sementara waktu terus beranjak siang, saya dan teman-teman berusaha mencari alternatif maskapai lain yang berangkat ke Maumere hari itu juga. Sayang, di atas jam 12 siang sudah tidak ada penerbangan ke Maumere untuk semua maskapai. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah rute ke Ende. Setelah memaksa staf di counter Wings Air untuk mengurus kepindahan kami menggunakan maskapai lain dengan tujuan Ende, akhirnya jam 14.00 kami take off ke Ende menggunakan maskapai Trans Nusa. Sore harinya saya dapat kabar dari saudara saya, bahwa pesawat Wings Air yang tadi rusak baru berangkat ke Maumere jam 16.30. Itupun karena ada tambahan insiden teknisinya salah pasang selang. Hadeuuh…..

Kami sudah terlanjur memesan mobil rental di Maumere karena rencananya sebelum ke Desa Moni, kami mau mampir dulu ke Patung Kristus Raja, gereja Kathedral St. Yoseph, bukit Nilo, Gereja Tua Sikka, pantai Paga, desa Jopu (suku Lio). Namun karena gagal terbang ke Maumere, akhirnya supir rental saya minta untuk menjemput kami di Ende. Perjalanan Maumere-Ende membutuhkan waktu sekitar 4 jam, sambil menunggu supir rental datang, kami menyewa mobil untuk keliling Ende.

Kami sempat mengunjungi rumah bekas pengasingan Bung Karno (sayang saat kami ke sana penjaganya sedang tidak ada sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam rumah bersejarah itu), pohon sukun bersejarah karena konon di bawah pohon itulah Bung Karno mendapat inspirasi untuk merumuskan Pancasila, pasar tenun ikat, gereja katedral Ende dan pantai Ende.

Ende kotanya tidak terlalu besar, 70% penduduknya beragama Katolik, yang unik di seberang kota Ende ada sebuah pulau, bernama Pulau Ende, di pulau ini justru 100% penduduknya beragama Islam. Ba’da magrib, kami kembali ke bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende karena sudah ditelepon pak supir mobil rental kalau dia sudah ada di bandara. Waktu tempuh Ende-Desa Moni membutuhkan waktu 2 jam melalui jalur berkelok-kelok yang lumayan bikin pusing.

Kami tiba di Desa Moni sekitar jam21.00 disambut kondisi gelap gulita. Ternyata malam itu di Desa Moni sedang padam listrik. Parahnya hotel tempat kami menginap tidak mempunyai genset. Niat untuk men-charge segala gadget mulai dari ponsel, baterai kamera dan lain-lain gagal total. Mandi dan membereskan barang-barang pun terpaksa hanya ditemani sebatang lilin. Kondisi semakin spooky karena di hotel sebesar itu tamu yang menginap hanya kami berlima.

Gong perdamaian di Taman Nostalgia, Kupang

Delay berjam-jam gara-gara ini nih

Gagal ke Maumere naik Wings Air, akhirnya terdampar di Ende naik Trans Nusa

Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende

Rumah bekas pengasingan Bung Karno, Ende

Gereja katedral Ende



Lebih dari sekedar cantik : Nusa Tenggara Timur #part 1

Trip ini sudah dirancang lama bersama teman-teman saya sekitar September 2011. Saat itu kondisi saya masih sehat secara lahiriah tapi nggak sehat secara batiniah…Masih berasa perih-perih pasca patah hati hehehe…. *curcol*

Maret 2012 saya divonis menderita GERD (Gastro Esofagus Reflux Disease), penyakit naiknya asam lambung sampai ke kerongkongan sehingga menyebabkan kerongkongan dan lambung saya luka akibat asam lambung berlebih. Efek dari GERD antara lain jantung tiba-tiba berdetak sangat cepat padahal hanya sedang duduk, tangan kiri dan kaki kiri kesemutan serta mengeluarkan keringat dingin, bisa tiba-tiba sesak kalau salah makan atau mengalami stress/ emosi, tiba-tiba cemas alias parno takut mati, keliyengan, mual dan muntah. Awalnya saya sempat ragu untuk berangkat, namun akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat meski harus membekali diri dengan berbagai obat serta makanan-makanan yang bisa saya konsumsi. FYI, penderita GERD itu tidak boleh mengkonsumsi makanan pedas, asam, bersantan, coklat, keju, tauge, sawi, kol, kembang kol, jeruk, apel, durian, mie instant, ketan, minuman bersoda, kopi, teh, susu dan mengurangi konsumsi daging merah.

Awalnya kami akan berangkat berenam. Namun karena satu orang teman mengundurkan diri,akhirnya kami pun berangkat berlima, perempuan semua. Rute kami dalam trip ini adalah Jakarta-Kupang-Maumere-Desa Moni-Kelimutu-Ende-Bajawa-Ruteng-Labuan Bajo-Taman Nasional Komodo (Pulau Rinca, Pantai Merah, Pulau Komodo, Gili Laba)-Labuan Bajo-Denpasar-Jakarta. Selama overland kami sepakat untuk menyewa mobil, mengingat waktu kami yang terbatas, ransel (terutama ransel saya) yang cukup berat serta rasanya kalau harus berpindah dari satu kendaraan umum ke kendaraan umum lainnya akan melelahkan.

Day 1 (Jakarta-Kupang)
Jam 4 pagi saya sudah berada di terminal 1B Bandara Soekarno Hatta, karena di jadwal pesawat akan take off ke Kupang jam 5.45. Sempat tertidur di mobil waktu perjalanan dari kosan ke bandara yang ternyata hanya memakan waktu 1 jam kalau dini hari. Kalau di jam normal biasanya saya mencadangkan waktu 3-4 jam perjalanan kosan-bandara. Selepas check in dan mengurus bagasi, kami berlima segera menuju ruang tunggu.

Kami mengambil flight CGK-Kupang transit di Surabaya, karena pada waktu booking dulu rute ini lebih murah daripada rute direct CGK-Kupang. Jam 7.10 kami mendarat di bandara Juanda. Karena flight berikutnya masih menggunakan maskapai yang sama,kami tidak perlu mengurus bagasi lagi, jadi pada saat menunggu flight berikutnya hanya membawa barang yang dibawa ke kabin. Mumpung transit saya sempatkan sarapan berat, mengingat fligth Surabaya-Kupang akan menghabiskan waktu sekitar 2 jam.

Berdasarkan pengalaman, selain persiapan dana dan itinerary yang fix, persiapan mental juga penting kalau kita mau trip, apalagi trip jarak jauh. ‘Ketidakberuntungan’ kami berawal dari delay-nya jadwal flight kami ke Kupang. Harusnya jam 12.45 WIT kami sudah ada di Kupang, tapi karena delay jam 13.30 kami baru sampai di Kupang. Di Kupang kami menginap di rumah saudara salah satu teman. Selama di sana kami hanya sempat mengunjungi Pantai Lusiana, toko souvenir khas NTT dekat Pantai Tedis, toko oleh-oleh di kota dan makan malam di Kampung Solor.

Selamat datang di Kupang 🙂

Pantai Lasiana, Kupang





Pusat jajan Kampung Solor, Kupang

Berkenalan dengan penyakit GERD

Setelah 3 kali bolak balik masuk UGD, 3 kali opname dan menjalani serangkaian pemeriksaan karena di suatu malam tiba-tiba gue merasa detak jantung gue cepat banget dan gak beraturan disertai tangan serta kaki kiri kesemutan dan keringat dingin plus pusing berat akhirnya dokter memvonis gue terkena GERD. Wew, namanya aja gue baru denger. Walaupun namanya terdengar keren, tapi pada kenyataannya hidup dengan GERD ini gak sekeren namanya. Tulisan ini sekedar sharing aja sih mengenai pengalaman gue selama beberapa bulan ini hidup bersama GERD.


Jenis-jenis masalah lambung dan gejalanya

GASTRITIS—Penyebab terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol, penggunaan obat-obat anti peradangan non-steroid jangka panjang seperti aspirin atau ibuprofen, infeksi bakteri H. Pylori, dan dari makanan yang terlalu asam dan pedas.

GERD—GERD singkatan dari gastro esophageal reflux disease, merupakan kejadian refluks/regurgitasi isi lambung yang berupa asam lambung naik ke atas (aliran balik dari lambung ke kerongkongan) sampai ke kerongkongan (esofagus). Aliran balik ini akan menyebabkan luka pada kerongkongan

TUKAK LAMBUNG—Tukak lambung adalah luka di dalam lambung akibat asam lambung berlebih yang menyebabkan mukosa (lapisan lambung) menipis dan menyebabkan luka. Penyebabnya karena asam lambung tinggi dan bakteri H. Pylori.


Apa gejala orang terkena GERD?

Gejala yang timbul berupa rasa panas yang menjalar dimulai dari dada dan bisa menjalar ke leher, tenggorokan, atau sudut rahang bawah. Gejala juga bisa dirasain kayak ada yang mengganjal di dada dan kerongkongan. Karena itu gejala ini juga disebut heartburn. Walaupun disebut heartburn, bukan berarti gejala tersebut disebabkan karena kelainan pada jantung. Namun, GERD bisa memicu adanya gangguan ritme pada jantung. Hal ini disebabkan oleh iritasi saraf atau nervus vagal yang berjalan di samping kerongkongan terus ke bawah melewati lambung oleh makanan bercampur asam lambung yang naik ke atas (regurgitasi). Gangguan ritme ini dirasakan seperti jantung berdebar-debar. Selain gangguan ritme jantung, gejala yang umum terjadi adalah perasaan cemas yang bertubi-tubi, panic attack, nyeri di area dada, keliyengan, muntah-muntah, mual, tiba-tiba badan terasa ringan seperti mau pingsan, tangan dan kaki kesemutan serta keluar keringat dingin. Gejala-gejala yang gue rasain sebelum akhirnya dokter memvonis gue terkena GERD.


Gimana bisa tau kalo kita kena GERD ato bukan?

Oya, untuk menyingkirkan kemungkinan keluhan berasal dari jantung, bisa dilakukan pemeriksaan yang gak invasif dan gak mahal yaitu perekaman aktivitas listrik jantung (EKG-elektrokardiografi). Kalo setelah pemeriksaan EKG gangguan ritme jantung masih dirasakan, bisa dilakukan USG jantung (Echo), untuk melihat apakah ada penebalan jantung yang berpotensi jantung koroner. Harga pemeriksaan Echo ini mahal banget, hiks…Waktu itu tarif cek Echo sekitar 600.000 rupiah, Alhamdulillah tercover asuransi kesehatan yang gue ikutin karena pada saat gw cek Echo gw lagi pas rawat inap. Waktu itu hasil dari hasil cek Echo, dokter bilang jantung gue normal. Tapi gue masih merasakan gak nyaman. Kemudian dokter mengecek kadar tiroid dalam darah gue. Karena ternyata ciri-ciri orang terkena hipertiroid juga ada gangguan ritme jantung menjadi cepat. Hasil cek tiroid, semua normal, gue gak menderita hipertiroid. Karena masih penasaran, dokter nyuruh gue cek holter. Holter adalah pengecekan ritme jantung semacam EKG tapi dilakukan selama 24 jam. Gue melakukan holter di Pusat Jantung Terpadu RSCM. Biaya holter 400.000 rupiah (kali ini keluar dari kocek gue sendiri, gak dicover asuransi, hiks) dan biaya jaminan 1 juta rupiah (dikembaliin kalo cek holter selesai). Gue cek holter di PJT RSCM pas banget di hari ulang tahun gue…What a lovely birthday hehehe…. Hasil holter masih menunjukkan kalo jantung gue normal. Tapi gue masih merasakan gak nyaman di bagian dada. Akhirnya dokter nyuruh gue melakukan endoskopi. Berhubung di rumah sakit deket kosan gak ada fasilitas untuk endoskopi, gue dirujuk ke RS Mitra Bekasi Timur.. Alhamdulillah gue cek endoskopi dicover asuransi, kalo nggak, gw bakalan ngeluarin uang 2,9 juta untuk biaya endoskopi dan 500 ribu rupiah untuk sewa ambulance *bisa nangis di pojokan sambil ngais-ngais tanah hehehe….* Setelah endoskopi baru deh ketauan kalo biang kerok gangguan ritme jantung gue dan segala macam keluhan yang gue rasain itu dari asam lambung. Jadi kalo ada yang punya gejala-gejala mirip seperti yang gue alami, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter agar jelas sumber penyakitnya dari mana.


Apa sih penyebab GERD?

Asam lambung yang tinggi menyebabkan cincin antara lambung dan kerongkongan atau LES (Lower Esophageal Sphincters) tidak bekerja dengan baik. Selain itu penyebab GERD bisa juga dari obesitas, setelah makan langsung tidur, tidur terlentang, merokok, minuman beralkohol, stress


Apa beda GERD dengan penyakit gastritis dan tukak lambung?

Gejala orang kena gastritis dan tukak lambung hampir mirip seperti sakit/ nyeri di bagian lambung, sering bersendawa, susah untuk kentut, sesak nafas, mulut kering atau malah produksi air liur berlebih, dana lemas, mual, kembung, cepat kenyang, rasa cemas berlebih, kurang nafsu makan, muntah, diare, ada rasa sakit/ gak nyaman di ulu hati. Kalo GERD adalah penyakit saluran cerna bagian atas yang terjadi karena asam lambung dengan derajat keasaman tinggi naik ke kerongkongan. Perbedaan khusus antara sakit lambung lainnya dengan GERD adalah pada penderita GERD ak
an ada rasa seperti terbakar di bagian belakang tulang dada dan cairan lambung gak cuma sampai ke kerongkongan tapi juga sampai ke mulut (dikenal dengan gejalka heartburn). Kerongkongan itu kayak saluran tabung otot yang menghubungkan mulut ke perut. LES itu sebuah cincin otot yang menutup pintu lambung dari kerongkongan saat kita gak makan. Saat kita makan, otto ini mengendur untuk memungkinkan makanan masuk dari kerongkongan ke perut. LES kemudian menutup lagi sehingga makanan di perut tidak kembali ke kerongkongan. Pada kondisi GERD, LES tidak berfungsi dengan baik.




(to be continued)

Bumbu Traveling (edisi trip ke Nusa Tenggara Timur)

Traveling itu tidak selalu terkait dengan hal-hal yang indah terus. Selain fisik, dana serta itinerary yang sudah harus dipersiapkan sebelum hari H, persiapan mental juga memegang peranan penting. Mengapa? Karena di dalam perjalanan nanti ada kemungkinan terjadi hal-hal di luar dugaan yang tentunya tidak kita inginkan terjadi. Bahkan hal di luar dugaan itu bisa terjadi sebelum kita berangkat ke tempat tujuan. Persiapan mental ini penting, karena ketika kita menghadapi kendala-kendala di saat traveling, terlebih jika kita sedang traveling ke lokasi yang jauh dimana sarana transportasi atau komunikasi terbatas, maka bagaimana kita mengambil sikap dan keputusan akan mempengaruhi perjalanan yang akan kita hadapi selanjutnya. Salah-salah, kita bisa ribut dengan teman seperjalanan atau berpotensi terjadi kecelakaan fatal dan sebagainya. Kalau menurut salah seorang teman, anggap saja kendala-kendala ini adalah bumbunya traveling.

1. Kartu ATM tertelan di mesin ATM
Malam sebelum berangkat, saya berniat mengambil uang sebagai bekal untuk trip saya ke Nusa Tenggara Timur. Malangnya, ketika uang dan struk sudah keluar, kartu ATM saya tidak keluar-keluar dari mesinnya. Saya tunggu 5 menit, 10 menit sampai 15 menit, tidak keluar juga. Akhirnya saya pasrah kemudian menelpon call center bank tersebut untuk memblokir rekening saya. Alhasil saya hanya membawa bekal ala kadarnya saat trip, ketika kekurangan dana saya meminjam uang ke teman seperjalanan saya hehehe…

2. Jadwal pesawat delay (akhirnya gagal berangkat ke daerah tujuan)
Jadwal pesawat delay setengah jam sampai satu jam sih sebenarnya sudah biasa. Tapi ya kadang bikin kesal juga karena pasti akan mempengaruhi jadwal acara yang sudah kita susun sedemikian rupa. Waktu trip kemarin, kami mengambil rute Jakarta-Kupang (transit di Surabaya) menggunakan Sriwijaya Air. Rute Jakarta-Surabaya berangkat on schedule. Tapi ternyata jadwal Surabaya-Kupang molor, sehingga rencana kami akan ke air terjun Onenesu di Kupang gagal karena tiba di Kupang sudah terlalu sore. Kejadian lebih parah ternyata terjadi keesokan harinya. Seharusnya kami berangkat ke Maumere menggunakan Wings Air jam 06.30, tapi malamnya kami dapat pesan singkat yang mengatakan bahwa pesawat delay hingga jam 09.00. Sekitar jam 08.00 tiba di bandara El-Tari Kupang, kami langsung check-in sambil mengurus bagasi. Sampai ruang tunggu ternyata pesawat delay lagi sampai jam 10.00, kemudian kami mendapat nasi kotak. Ketika sudah berada di dalam pesawat (saya duduk dekat jendela di bagian kanan), saya melihat bagian baling-baling kanan sedang diutak-atik oleh mekanik. Saya pikir akan hanya sebentar. Ternyata sampai setengah jam pesawat belum take off juga. Seluruh penumpang termasuk saya dan teman-teman sudah gusar. Saat itu saya sudah cukup senang ketika melihat mesin baling-baling ditutup tanda perbaikan sudah selasai. Ternyata saat si teknisi hendak menggeser tangga, tanpa sengaja dia melihat sejumlah cairan merembes keluar dari mesin. Hati saya langsung kecut melihat kejadian itu. Si teknisi kembali membuka mesin di bagian baling-baling. Belakangan saya tahu dari saudara saya yang bekerja di Wings Air kantor Jakarta, cairan itu adalah oli yang merembes karena selangnya bocor. Akhirnya karena tidak tahan menunggu di dalam pesawat, semua penumpang turun kemudian menyerbu counter Wings Air untuk meminta kepastian. Staf di counter tidak banyak membantu untuk memberi solusi. Saya terus berkomunikasi dengan saudara yang bekerja di Wings Air kantor Jakarta untuk menanyakan perkembangan kejadian ini. Sementara waktu terus beranjak siang, saya dan teman-teman berusaha mencari alternatif maskapai lain yang berangkat ke Maumere hari itu juga. Sayang, di atas jam 12 siang sudah tidak ada penerbangan ke Maumere untuk semua maskapai. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah rute ke Ende. Setelah memaksa staf di counter Wings Air untuk mengurus kepindahan kami menggunakan maskapai lain dengan tujuan Ende, akhirnya jam 14.00 kami take off ke Ende menggunakan maskapai Trans Nusa. Sore harinya saya dapat kabar dari saudara saya, bahwa pesawat Wings Air yang tadi rusak baru berangkat ke Maumere jam 16.30.

3. Perubahan itinerary
Akibat kami gagal terbang ke Maumere, ada beberapa spot yang tidak jadi kami kunjungi seperti gereja tua peninggalan Portugis di Sikka, pantai Paga, Patung Kristus Raja, gereja Kathedral St. Yoseph di bukit Nilo, pantai Paga dan desa Jopu (tempat tinggal suku Lio). Kami terlanjur memesan mobil sewa dari Maumere, karena kami landing di Ende, maka supir yang sudah sejak pagi menunggu di Maumere harus menjemput kami di Ende sebelum kami ke Desa Moni (desa terakhir sebelum ke Taman Nasional Kelimutu). Waktu tempuh Maumere-Ende adalah 4 jam. Jadi sambil menunggu supir datang dari Maumere, kami memutuskan menyewa mobil di Ende, untuk berkeliling di sekitaran Ende. Di Ende kami sempat ke rumah bekas pengasingan Bung Karno (sayang saat penjaganya sedang tidak ada sehingga kami tidak bisa melihat ke dalam), pasar tenun ikat, gereja katedral Ende dan pantai Ende.

4. Kondisi penerangan
Infrastruktur seperti kondisi jalan, listrik, sarana komunikasi yang belum memadai di luar Pulau Jawa berpotensi menjadi kendala selama perjalanan. Kami tiba di Desa Moni sekitar jam21.00 disambut kondisi gelap gulita. Ternyata malam itu di Desa Moni sedang padam listrik. Parahnya hotel tempat kami menginap tidak mempunyai genset. Niat untuk men-charge segala gadget mulai dari ponsel, baterai kamera dan lain-lain gagal total. Mandi dan membereskan barang-barang pun terpaksa hanya ditemani sebatang lilin.

5. Tunduk pada alam
Demi keinginan berburu foto matahari terbit di Danau Kelimutu,jam 4 pagi kami sudah bersiap untuk berangkat menuju ke danau cantik 3 warna tersebut. Menggunakan perlengkapan perang melawan dingin yang menusuk seperti kaos kaki,kaos tangan, jaket dan kupluk kami pun berangkat. Jarak dari penginapan sampai ke tempat parkir TN Kelimutu sekitar 13 km. Ternyata kami pengunjung pertama yang tiba. Kami mulai mendaki di keremangan berbekal 3 buah senter. Tiba di puncak kondisi maish gelap dan kabut tebal. Perlahan hari mulai terang tapi kabut tak kunjung hilang. Jam 8 pagi kami memutuskan untuk turun karena kabut masih menyelimuti permukaan danau dan perut kami sudah lapar. Sekitar jam 10.30 selesai sarapan kami naik kembali ke Danau Kelimutu. Alhamdulillah kabut sudah hilang berganti 3 danau spektakuler karya Sang Maha Karya.

6. Penginapan yang sudah dibooking ternyata ditempati orang lain
Jauh hari sebelum berangkat, kami sudah memesan penginapan di beberapa lokasi termasuk di Kesusteran Maria Berdukacita di Ruteng. Malam hari sekitar pukul 21.00 kami tiba di Kesusteran. Apa daya ternyata kamar yang sudah kami pesan ditempati orang lain. Apa pasal? Ternyata teman saya yang kebagian memesan penginapan di Kesusteran tidak konfirmasi ulang, dan ketika dari Kesusteran menghubungi teman saya ponselnya tidak bisa dihubungi karena provider yang digunakan teman tidak mendapat sinyal. Perjalanan melelahkan Bajawa-Ruteng yang memakan waktu 6 jam masih ditambah kepusingan mencari penginapan pengganti Kesusteran. Setelah bertanya-tanya akhirnya kami menginap di hotel Mariyos yang berada cukup jauh dari pusat kota Ruteng.

7. Bagasi overweight
Barang bawaan saya memang paling banyak dibandingkan keempat teman saya yang lain. Ketika di bandara El Tari Kupang hendak ke Maumere (yang kemudian malah terdampar di Ende), saat check-in baik saat check-in di Wings Air maupun di Trans Nusa, bagasi saya bisa digabung dengan teman-teman yang lain walaupun kami tidak satu kode booking. Nah,ketika di bandara Komodo Labuan Bajo, bagasi saya kena overweight 6 kg. Jadi untuk pesawat kecil jenis ATR yang biasa menjalani rute kota-kota kecil di Indonesia Timur maksimum jatah bagasi untuk setiap penumpang adalah 15 kg, berbeda dengan bagasi untuk pesawat besar maksimum 20 kg. Setelah ditimbang bagasi saya jumlahnya sekitar 21 kg. Ketika saya minta digabungkan dengan bagasi teman saya yang barang bawaannya tidak banyak, ditolak oleh pihak counter dengan alasan tidak satu kode booking. Saya pun dengan terpaksa membayar kelebihan bagasi sebesar Rp. 79.200.

8. Barang bawaan rusak
Tak cukup sampai di urusan bagasi overweight. Kantong bawaan saya yang terbuat dari plastik, ditemukan robek oleh petugas bagasi, padahal saya merasa ketika di hotel kondisi kantong masih baik-baik saja. Terpaksa saya membungkus kantong tersebut dengan plastik wraping dengan membayar Rp. 25.000. Saya tidak tahu apakah kantong saya sengaja disobek oleh petugas supaya saya membungkus kantong saya itu dengan plastik wraping. Entahlah.

9. Barang hilang
Selain ke Pulau Komodo, Pink Beach dan Pulau Rinca, kami juga mengunjungi Gili Laba, salah satu pulau yang letaknya di utara perbatasan antara Pulau Komodo dengan Pulau Sumbawa. Untuk menuju puncak bukit, kami harus mendaki bahkan merayap karena kemiringan bukit hampir 90 derajat. Kali ini korbannya adalah sunglasses saya. Saat tiba di bukit saya tidak mendapati sunglasses saya baik di tas selempang maupun tas kamera saya. Entahlah mungkin terjatuh ketika saya sebelumnya merayap-rayap seperti Spiderman.